Senin, 28 Februari 2011

PERENCANAAN, STRATEGI DAN TARGET UTAMA


Pada saat dibentuk dan didirikan Sanggar ini mempunyai plan atau perencanaan, sebagai sanggar yang dekat dengan  masyarakat maka sanggar ini didirikan menyatu dengan rumah pemilik dan berada ditengah-tengah masyarakat. Sehingga siapapun dapat bergabung ke dalam sanggar ini, tanpa memandang status sosial, gender, usia dan latar belakang.

Sehingga sanggar ini walaupun baru didirikan namun cepat dikenal di lingkungan masyarakat Kota Balikpapan. Kemudian pola sosialisasi yang dilakukan dengan memperkenalkan diri kepada Pemerintah Kota Balikpapan dan Instansi-Instansi lainnya, khususnya Dinas Pariwisata Kota Balikpapan.

Selain daripada itu sanggar ini akan menjalin hubungan baik dengan sekolah-sekolah di Kota Balikpapan, mulai dari tingkat SD/SDI, SMP/MTs, SMU/MA/SMK, dan Perguruan tinggi, mensosialisasikan sanggar ini sebagai bagian dari seni dan budaya maka dapat di jadikan Ekstrakulikuler yang baru dalam dunia Pendidikan. Karena dalam Kesenian dan Kebudayaan banyak mengandung nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari di masyarkat.

Target utama sanggar ini adalah, sanggar ini dapat dengan mudah dikenal masyarakat luas kota Balikpapan dengan mengadakan pendidikan seni dan budaya bagi anak usia sxekolah, Mahasiswa dan masyarakat umum. Serta dapat mengikuti berbagai macam Festival Seni dan Budaya yang diadakan di dalam dan Luar Negeri. Serta memberikan pelayanan kepada Masyarakat umum dan Pemerintah atau Instansi atau Lembaga atau Perusahaan swasta yang membutuhkan pagelaran seni dan budaya dalam berbagai acara yang akan dilakukan.
TUJUAN JANGKA PENDEK

Menjadi sanggar yang dapat dengan mudah di kenal masyarakat luas Kota Balikpapan, dan menjadikan sanggar ini sebagai sanggar yang terbaik di Kota Balikpapan.
TUJUAN JANGKA PANJANG

Disesuaikan dengan Kebutuhan dan Perkembangan.

VISI DAN MISI SANGGAR SENI DAN BUDAYA “SASONO SRI BUDOYO”


Sanggar seni dan budaya “Sasono Sri Budoyo” mempunyai visi dan misi kedepan sebagai pusat pengembangan seni dan budaya Jawa di wilayah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Dan sebagai wadah komunikasi bagi komunitas seniman Kota Balikpapan.
 Misi yang hendak dicapai oleh sanggar ini adalah Menjadikan seni budaya Jawa sebagai kesenian yang melekat dalam kehidupan masyarakat dengan menyelenggarakan pagelaran seni budaya Jawa, di Kota Balikpapan pada Khususnya dan Seluruh Indonesia Pada Umumnya bahkan Go Internasional dengan mengikuti festival seni dan budaya yang diselenggarakan di luar negeri.
Sanggar Seni dan Budaya “Sasono Sri Budoyo”, akan menjalin hubungan baik dengan Pihak Pemerintah daerah dan pihak swasta dalam mensosialisasikan program Kesenian dan Kebudayaan, dan Program Promosi dan Pengembangan Pariwisata di Kota Balikpapan, sebagai kota yang majemuk dengan komposisi masyarakat yang heterogen, terdiri dari berbagai suku bangsa, daerah, adat dan istiadat serta keberagaman kebudayaan yang menjadikan Kota Balikpapan kota yang unik, dan menarik untuk dikunjungi.
Dalam pada itu pula sanggar ini berperan aktif dalam mencetak kader-kader seniman sebagai generasi penerus, dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi pelajar dan Mahasiswa serta masyarkat umum yang berminat mendalami bidang seni budaya.
Dalam perjalanannya sanggar ini juga berfungsi sebagai  sanggar yang mampu memenuhi permintaan masyarakat suku Jawa yang ada di kota Balikpapan yang membutuhkan pagelaran kesenian Jawa dalam acara pesta perkawinan, sunat, ulang tahun, dan acara-acara lainnya.

SEJARAH SINGKAT TENTANG GAMELAN


Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan sejak zaman Kerajaan Majapahit hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanyikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.
Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

Sanggar Seni Sasono Sri Budhoyo bertujuan untuk :
1. Mendorong peningkatan dan perkembangan kehidupan kesenian sejalan dengan
    kebutuhan masyarakat;
2. Mendorong dan meningkatkan mutu karya seni sejalan dengan meningkatnya apresiasi
    masyarakat terhadap kesenian;
3. Meningkatkan, mengembangkan dan menampung peran serta masyarakat di bidang
    pembangunan kesenian;
4. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan kesenian sebagai upaya untuk
    meningkatkan kesejahteraan pelaku seni.
S4B bersifat independen, berlandaskan pada prinsip kemandirian yang mengutamakan kesetaraan dengan berbagai pihak sebagai mitra kerja dan tidak berafiliasi dengan organisasi atau partai politik apapun

PENGERTIAN TENTANG GAMELAN


Gamelan adalah suatu alat musik berupa ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

RUANG LINGKUP SANGGAR SENI BUDAYA “SASONO SRI BUDOYO”


Mengingat luasnya ruang lingkup seni budaya di Indonesia maka hal tersebut dalam Sanggar seni budaya “Sasono Sri Budoyo” di batasi pada Kesenian dan Kebudayaan Masyarakat Jawa.
Bentuk dan ragam seni budaya bermacam-macam, namun dibatasi menjadi Lima garis besar utama yaitu seni Karawitan, seni Tari, seni Frahmen dan Sendratari, Pedalangan, Mocopat dan  Filsafat Seni Budaya